Keharmonisan anak-anak dalam perjalanan kereta cibatuan di persimpangan gerbong kereta yang padat

Kereta cibatuan membawaku melaju mengantarkan adik ke-2 ku yang hendak mengikuti rangkaian Masa Orientasi Siswa (MOS) pada tanggal 10 juli kemarin. Tak lama sampai dirumah, aku kembali pamit karena kereta cibatuan kembali menuju Bandung hanya berselang satu jam dari pemutaran balik statsiun Purwakarta menuju statsiun Plered. Melihat penumpang yang naik dari statsiun Plered mayoritas ibu beserta anak-anaknya yang cukup banyak serta gerbong-gerbong yang terlihat penuh dibatas penungguan kereta yang hendak berhenti, akupun berpikir untuk berdiri dipersimpangan gerbong saja sambil mendengarkan beberapa album Nosstres.

Setelah melalui beberapa statsiun pemberhentian kereta, aku baru ngeh ketika melihat lingkaran kecil yang dibuat oleh segerombolan anak cilik serta satu orang ibu-ibu yang juga berada di persimpangan gerbong. Kasihan melihat mereka duduk dilantai persimpangan gerbong, akhirnya aku mencoba untuk menengok mencari-cari apakah ada tempat duduk kosong setelah beberapa kali pemberhentian ada orang yang sering turun ketimbang naik. Namun ketika melihat tempat duduk diantara kedua gerbong penuh dan padat, kurasa duduk dilantai persimpangan gerbong kereta juga tak masalah, meskipun secara keamanan memang sungguh-sungguh tidak aman sama sekali.

kereta menunggu perwis yang terjadi pada lintas jalur lokal, seorang petugas celaning service bersantai dan seorang pemuda menengok ke arah masinis statsiun cikadongdong

suasana yang pengap memang menjadi hal yang menyebalkan saat itu, beruntungnya kereta juga sampai di statsiun pemberhentian berikutnya. Akupun mencoba membuka pintu persimpangan gerbong untuk mendapatkan udara yang lebih segar. Melihat cleaning service turun keluar dan bersantai serta masinis statsiun yang memberikan aba aba bahwa akan ada perwis, keretapun berhenti cukup lama. Terdengar cukup keras suara anak cilik yang melingkar duduk dipersimpangan gerbong bercanda dan tertawa, membuatku sontak melihat dan sejenak berpikir bahwa suasana harmonis tercipta ketika semuanya saling berhadapan, bagaimanapun kondisinya sesama manusia harus saling mencurahkan apa yang ia rasakan didepan manusia lainnya.

Peristiwa itu mengingatkanku kepada salah satu budaya Batak. Yang mana, jika ia tidak suka dengan apapun yang berkaitan dengannya, maka ia akan secara lantang berbicara bahwa ia tidak suka terhadap orang yang membuatnya tidak menyukainya. Sepertinya budaya semacam itu yang membuat suku Batak baik di perantauan ataupun di daerahnya sendiri terlihat bak ikatan rotan yang kuat. Bukan perihal rasa rindu ataupun karena marga ketika orang Batak berjumpa bak sodara, namun memang cara mempelakukan antar sesama manusianya pun bisa dibilang lugas. Hal ini pernah aku rasakan ketika sedang menjalankan sebuah project kolaborasi film bersama temanku, dan ketika aku membuat kesalahan yang kurasa itu wajar, temanku berusaha mencurahkan kekesalannya terhadapku. Namun setelah itu kami tidak bertengkar sama sekali, bahkan menjadi sebuah pembelajaran baru. Akibat peristiwa itu, aku mendapatkan sebuah artian nyata bahwa manusia itu tidak sama seperti apa yang dibayangkan dalam benak kita, dan ketika kita mengenali satu sama lain, itu yang akan membuat kita faham akan bentuk perlakuan seperti apa terhadapnya.

saya merujuk pada salah satu pemahaman dalam kepercayaan saya, bahwa manusia diciptakan berbeda-beda layaknya untuk saling mengenal satu sama lain

Prinsip berhadapan antar sesama manusia, menjadi sebuah pembentuk awal terciptanya keharmonisan. Seperti canda tawa yang kulihat pada lingkaran kecil anak cilik di persimpangan gerbong. Yang mungkin, sebelum menaiki kereta mereka memperdebatkan urutan tempat duduk, siapa duluan yang berhak duduk diposisi dekat dengan jendela hanya sekedar untuk melihat pemandangan disepanjang perjalanan. Namun nyatanya mereka harus menghibur satu sama lain dalam kepadatan kereta dan suasana yang pengap pada waktu itu.

Kereta api ekonomi memang murah, ketika masuk kita harus mewajari akan kepadatan kereta yang kadang membuat tidak nyaman diperjalanan. Namun, karna itulah aku menemukan beberapa hal menarik yang dapat dijadikan sebuah potret pembelajaran apabila kita peka terhadap lingkungan sekitar. Jangan jauh-jauh, yang ada di samping kita aja dulu.

Published by Luthfie Muhammad

Lupa Pulang Jangan Jalan-Jalan

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started