
Meninggalkan pekerjaan memang hal yang salah, bekerja dalam penuh kepenatan juga hal yang salah, ah sudahlah ini bukan zaman penjajahan!
Kuputuskan untuk menghela nafas sejenak dan menunggu jadwal kereta tiba bersama dinginnya malam dipelataran masjid kampus yang sudah lama tidak aku kunjungi, memang masjid adalah rumah. Sejujurnya ini adalah perjalanan pertama lintas kota dengan menggunakan kereta api, ekonomi pula. Dengan iming-iming agar dapat mengobrol dan bertukar cerita, nyatanya bangku 3 sheet berhadap hadapan hanya dipenuhi dengan perdebatan siapa yang pertama mencarter tempat charger handphone saja. Mungkin sapa menyapa diudara kini lebih terkesan romantis ketimbang langsung dengan orang kasat mata, sampai ahirnya tiba di statsiun terahir semua orang mulai sibuk dengan kata permisi kepada orang yang menghalangi gerak langkahnya.
Terlambat dan menunggu adalah satu peristiwa yang tidak bisa dibantah bagi sebagian orang yang mempunyai tekad untuk bertemu. Setelah penantian panjang, manusia macam apa yang tidak berani untuk menunggu meskipun perlu mengorbankan banyak waktu. Dipojok pintu keluar timur statsiun, kini kulihat dia dengan nyata. Mencari-cari yang dicarinya, dan aku tetap berdiri dibelakangnya. Sampai hati ini berani berjalan menghampirinya, sesambil otak ini berfikir kalimat pertama untuk menyapanya. Semua terkesan seperti mimpi, aku dan dia sangat terlihat memikirkan hal yang sama, bagaimana cara memulai untuk memulai.
Malioboro pukul tiga sore, salad buah dan keramaian pengunjung sepanjang jalan garis lintang Yogyakarta ini sangat indah dengan senjanya. Mulai berjalan menyusuri lautan manusia hanya untuk mencari 5 tusuk telur gulung yang menjadi incaran sang kekasih, dia memang beda. Menemaninya berjalan lurus ke pusat poros perputaran Yogyakarta, kupikir pertemuan pertama memang harus berkenalan, memperhatikan setiap detil sikap dan ucapan masing masing dari kita, sampai langkah ini terhenti disebuah warung mercon lesehan. Disela sela perjalanan ku sempatkan bertanya tentang keletihan, namun ia bantah dengan semangat, tidak baik menunda nunda penasaran ucapnya, meski nyatanya warung mercon yang kucari tidak juga terlihat nampak. Sampai saat ini aku masih bingung apa yang menyebabkan sandang pangan di Jogja bisa begitu sangat murah, namun nyatanya ketika menanyakan semua makanan pesanan harganya cukup mengagetkan. Ya begini sudah turis di negara sendiri, merasa asing dengan semua alkisahnya.
I do not need the kind of love that is draining, I want someone who energizes me...
Rupikaur – the sun and her flowers
Bobi Rendra, orang yang dulu sempat kubenci hanya karena permainan pendewasaan diri, kini menjadi sahabat sekaligus orang yang pertama kali aku kenalkan dengan dia. Semua ini asing, tidak pernah seantusias ini aku mengenalkan orang yang juga baru bertemu beberapa jam yang lalu. Seharusnya ini menjadi sebuah penghormatan, karena aku tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Sambil menunggu datang karena hendak mengantarkan orang tuanya menuju statsiun, aku mulai berani untuk menanyakan hal hal yang sebenarnya retoris, ya bagaimanapun ini termasuk usaha bagi tipikal orang yang cukup introvert. Sampai sini kita bertiga hanya mengobrol dan berdiskusi seputar pengalamanku, pencapaianku, dan kegundahanku. Sampai sini pula kita bertiga berpisah menuju titik masing masing. Sampai sini pula tidak kusadari betapa dinginnya malam dan tangan ini.