Perkenalan yang Asing

Sempat beberapa kali terdiam dan merenung atas nasib yang tidak sama sekali menunjukan mimpi. Lagi-lagi perjalanan kerap kali menjadi pelarian untuk sekedar mengobati kegundahan hati. Bersyukurnya perjalanan tampak arah. Aku diminta untuk menjadi penelusur jejak manusia yang katanya cukup ekstrim. Meskipun sebenarnya takut, namun rasa takut akan kegundahan hati lebih ber api-api. 

Kereta mengantarkan kami kesebuah tempat yang belum pernah terjajaki. Dua teman wanitaku dengan luwes mempersilahkan masuk layaknya sudah seperti rumah sendiri. Aku membungkuk sembari mengucapkan salam dan disambut oleh dua orang laki-laki . Satu terlihat lebih muda dariku, dan satunya lebih tua. Mereka tersenyum namun layaknya tidak seperti laki-laki. Raut muka mereka seakan menafsirkan ke-ekstriman yang dikatakan teman perempuanku sebelum beranjak. Untungnya segelas teh hangat cukup dapat mengendalikan aliran keringat dingin yang sudah membanjiri punggungku.

Obrolan berlangsung begitu lama, tidak terasa hari sudah mulai malam. Setelah santap makan malam, narasi-narasi keintiman pun dimulai. Tentu kapasitasku untuk menjadi sang penelusur sudah merenggut jiwa-jiwa mereka. Laki-laki yang lebih tua berkata banyak sekali hal-hal yang cukup filosofis akan keputusannya menjadi seorang penari. Sekarang aku tahu, bahwa ke ekstriman itu terpancar karena mereka sedikit nakal akan hakikatnya. Laki-laki yang berparas cantik. 

Pertunjukan tari dimulai dengan cukup apik. Aku menganga melihat gemulai para penari yang sangat lihai dalam berlatih gerakan-gerakannya. Aku cukup memperhatikan semua orang yang terlibat pada pertunjukan. Sayangnya setelah hampir satu jam, aku pun terlarut oleh pertunjukan itu. Tidak kusangka, rumah jawa tua yang mempunyai empat pilar di ruangan utama seakan menjadi poros putaran ilusi pertunjukan berlangsung. 

Hawa dingin sudah mulai menusuk. Pertunjukan pun akhirnya selesai. Dengan cepat laki-laki yang lebih tua itu menutup pintu yang terbuka lebar. Serasa ada yang aneh dengan gerak-gariknya. Dua teman wanitaku sudah tidak kuat untuk melanjutkan penelusuran. Mereka meminta izin untuk istirahat dengan alasan kantuk yang berat. Aku tahu, mereka perlu waktu untuk sekedar menghubungi teman hatinya yang tidak ikut bersama kami. Selepas teman wanitaku beranjak, aku merasa sendirian dalam kerumunan. Syarafku seakan mengirimkan sinyal intimidatif ke seluruh tubuh. Aku berharap handphone ku berdering seperti malam-malam biasanya. Namun rasa pesimis lebih besar karena aku sedang di ambang perpisahan. 

Mereka memulai dengan lelucon yang mempermainkanku. Meskipun dalam tawa, mata ini tetap waspada melihat ke kiri dan ke kanan. Aku mulai basa basi menanyakan warung yang masih buka untuk membeli rokok yang sebetulnya masih ada. Beruntung mereka akhirnya teringat bahwa malam sudah hampir larut. Satu per satu bagian diatara mereka berpamitan untuk pulang. Hingga tinggal aku dan dua laki-laki itu yang duduk di meja bundar. Laki-laki lebih tua menyuruh adiknya untuk membuatkan kopi dan teh hangat. Aku kira itu anaknya selama ini.

Hanya tinggal aku dan laki-laki lebih tua itu kini berhadapan. Satu batang rokok coba ku nyalakan untuk mengimbangi laki-laki itu. Dengan lembut ia menegurku agar jangan terlalu waspada. Aku mulai melirik dia dalam-dalam. Dirumah ini tidak ada yang berani mengusikmu, ungkapnya. Semakin terheran, aku mencoba menyelaraskan dengan harap bisa memahami apa yang dia maksud. Mungkin aku tidak asing ya? tanyaku. Mereka tau kamu akan datang, dan akupun tau. Ungkapnya sambil menghembuskan asap roko. 

Kopi dan teh pun sudah datang. Laki-laki tua itu menyuruh adiknya untuk tidur agar besok tidak telat menuju sekolah. Kamu tidak mau tidur? tanya nya. Aku terbiasa tidur larut malam, jawabku. Bahkan kita mempunyai kesamaan yang sama, ungkapnya. Jangan menganggap dirimu asing lagi di tempat ini, ada banyak sekali yang harus aku ceritakan, dan tentunya bukan untuk orang asing. Dia mematikan rokok lalu menyuruhku untuk tidur.

Published by Luthfie Muhammad

Lupa Pulang Jangan Jalan-Jalan

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started