Ketika mengunjungi salah satu kedai kopi, tidak sengaja melihat kata-kata yang tertulis lengkap dengan mural lukisan wajah sang penyairnya, begini katanya “kopi itu sangat sederhana, yang tidak sederhana hanya tafsirannya”
Tentu kutipan diatas merupakan adaptasi dari pemikiran pram yang disebutnya di dalam salah satu buku tetraloginya, begini aslinya “hidup itu sungguh sederhana, yang hebat sungguh hebat hanya tafsirannya”. Sederhana dan tafsirannya berhasil tidak bisa membuatku tidur malam ini dan memaksaku sekarang untuk menuliskan kisah dimana itu sesederhana memanaskan coklat untuk menghangatkan badan, dan sesulit menyangrai kopi untuk tafsiran berbagai macam rasa.
Rabu malam tanggal 11 september 2019, sengaja aku tuliskan waktu kejadian dengan harap akan kekal dalam ingatan kita. Perjalanan ke arah utara Yogyakarta dengan suasana sedikit sejuk dan tentu dingin lagi-lagi membuatku tidak merasakan itu semua. Lagi-lagi dia memberikan sinergi yang cukup besar sehingga tanganku menolak untuk melepaskan genggamannya. Kira-kira kemana kita akan sampai? Tidak akan menarik jika aku menjelaskan tempat itu secara terang-terangan, bukan berarti ingin menimbulkan rasa penasaran, aku tahu betul rasanya ditangguhkan dengan praduga dan asumsi asumsi liar namun nyatanya tidak seliar yang dibayangkan, sekali lagi aku ingatkan bahwa bayangan memang begitu kerjanya, pesanku selalu ingat saja sifatnya.
Coklat sang makanan para dewa. Begitu orang-orang Venezuela menafsirkan keorganikan coklat atas manfaatnya. Katanya, minuman coklat hangat terenak Jogja ada disini. Disebuah kedai kopi yang nyentrik, sudah itu saja pernyataanku atas kesampaian aku dan dia. Tidak membuat penasaran kan? Baik, satu gelas coklat panas sudah kusodorkan kepada dia yang menunggu sambil membuka buku catatannya. Coklatnya tuan putri ucapku sambil membungkukan badan. Aku tidak suka aroma kopi ucapnya dengan mimik mukanya yang begitu. Tidak bisa kutuliskan, itu hanya ada dalam bayangan. Bayangkan saja jika mampu. Satu pelajaran yang menjadikanku respect terhadapnya adalah kerelaanya berbagi waktu belajarnya dengan waktu bermesranya. ini tentu tidak sepenuhnya kehendak semesta, namun ada niat mulia yang mendampingi terciptanya sebuah fenomena romantisme yang beda. tidak dengan bosannya aku ingatkan bahwa dia benar-benar beda.
Apakah kalian percaya tentang sebuah kefitrahan? Fitrah yang berarti datang dari tuhan alias sesuatu yang suci? Aku percaya, buktinya saja manusia. Jeritan jeritan manusia yang memecahkan ketubannya adalah contoh nyata atas adanya fitrah. Ketika aku belajar dulu, guruku sempat menerangkan bahwa segala sesuatu yang suci itu sangat sederhana. Analoginya, seperti bayi manusia yang tumbuh besar dalam kaki tangan hewan hutan. Yang penting disini apakah kefitrahan bisa menjadi tidak sederhana lagi ketika ada kesalahan pada siapapun yang nantinya memaksa tuhan untuk menguji mahluk ciptaannya?
supaya sembuh, kau harus gali akar lukamu, dan mengecupnya sampai puncak
Rupikaur – the sun and her flowers
Mencium aromanya saja sudah tidak suka, apalagi menafsirkannya. Sengaja kupesan kopi agar sedikit lebih segar dan tetap konsentrasi menemani dia dengan sinerginya. Menurutku ini sebuah perjuangan bukan sebuah penghinaan, karena akar rumputnya adalah kasih sayang. Kutemani dia belajar dan sesekali mengganggunya, agar dia tidak merasa terbebani sendiri. Hal yang sangat lucu adalah kita sama sama baru tahu bahwa iphone bisa dijaikan penggaris untuk membuat garis samping, serendah itu bagi kita. Saat itu yang paling kuingat adalah bahasan tentang teman sekamarmu, sekarang aku bercerita kepadamu wahai sang pembaca. Kau ingat ketika aku begitu mendengarkan dengan sabar keluhan keluhan tentangmu, dan semua yang bersangkutan denganmu, pastinya malam itu tentang teman sekamarmu. Disana kita berdialog untuk mencapai sebuah kesejahteraan. Meskipun nyatanya sampai sekarangpun belum juga sejahtera. Tetapi bukan itu yang kutekankan, kali ini aku akan menafsirkan semua maksud dan analogi yang kusampaikan kepada temanmu, semoga saja masih berkenan untuk mengingat kalimat demi kalimatnya.
Begini, tidak ada perbedaan yang menjadikan setiap manusia menghendaki takdirnya. Semuanya berupaya untuk mejadi yang terbaik sekaligus dimata tuhannya. Setelah perjalanan panjang begitu banyak, aku sadari bahwa hidup hanya tinggal mati. Karena setiap apapun yang dilakukan manusia menghendaki kekekalan didalamnya. Dan kau tau apa yang akan kekal dari manusia? Yaitu kematian. Boleh aku membuat sebuah perumpamaan sederhana? Kopi yang dicampur berbagai macam penyedap rasapun yang kekal hanya paitnya. Kiranya malu sebagai manusia apabila ia mati masih menyimpan secerca harapan kebahagiaan. Aku belajar kalau semua ini hanya sementara. Waktu. Perasaan. Orang-orang. Aku belajar kalau mencintai berarti memberi. Seutuhnya. Dan merelakan diri terluka. Aku belajar kalau menjadi rentan itu selalu merupakan pilihan tepat, karena di dunia sekarang ini menjadi dingin itu mudah sementara menjadi lembut itu luar biasa sulitnya. Aku belajar kalau semua ada pasangannya. Hidup dan mati. Suka dan duka. Gula dan garam. Manis dan pahit. Begitu juga aku dan kau. Itulah keseimbangan semesta.
inilah rahasia hidup, ingatlah mawar yang kau tanam di taman sepanjang tahun, mereka akan mengajarimu, betapa manusia harus layu, gugur, tumbuh, kuncup, agar mekar kembali
Rupikaur – the sun and her flowers
Aku kira kita berpasangan, karena aku tidak suka coklat dan kau tidak suka kopi. Kau suka manis dan aku suka pahit. Pernahkah terlintas dalam fikiranmu kalau kita tidak berpasangan? Jika iya, kukira itu tepat sekali. Karena yang kumaksud berpasangan disini adalah kau dan segala sesuatu yang membuatmu mendapatkan semua rasa manismu, dan aku dengan segala sesuatu yang membuaku terus menafsirkan rasa pahitku. Tentunya dengan tidak sederhana.
