
dia sedang menuju prasasti penyemayaman dewa wisnu
Iri sekali dengan bayangan. Setiap kali aku berkeringat ia tidak sesekali mengucurkan keringat, padahal sama-sama melangkah menuju tempat jemputan yang ditutup rapat dengan tralis besi…
Hey! itulah asrama, tempat dimana para manusia menitipkan manusia kepada manusia. Bukannya manusia hanya patut menitipkan dirinya kepada tuhan? Dan tuntutan sosial tentang manusia-pun ahirnya digantungkan kepada tuhan? Kesal! bayangan tidak menjawab apa-apa. Masih dengan posisi kepala menunduk, kulihat bayangan dia mulai mendekat seakan hendak memberikan jawaban. Diajaknya aku menuju halte bis, itu tidak jauh dari asrama ucapnya. Aku dan dia berjalan dibawah teriknya sang surya. Sekarang kulihat bayangan menjadi dua, sesaat mendapat jawaban bahwa manusia hanya menitipkan dirinya kepada manusia yang benar-benar disayanginya, tetapi orang yang sayang kepadanya belum bisa dipercayainya. Rumit, tapi itulah manusia dengan segala kemanusiaannya.
ada yang baru sadar setelah memiliki semua, ada yang baru sadar setelah kehilangan semua
Marcella FP – nktchi
Tangan ini sudah mulai hangat. bukan karena sang surya sedang merekah dengan agungnya, namun sinergi jari-jemarinya yang terus mengalirkan kehangatan tiada henti. Ditengah perjalanan, rasa bersalahku muncul. Berharap dapat sarapan salah satu makanan khas daerah Jogja, ternyata hostel tempat menginap semalam malah menghidangkan masakan rumahan. Itu bukan hal yang biasa, namun alangkah istimewa jika dapat sedikit mencicipi hidangan khas daerahnya. Malu bertanya sesat dijalan, bukan begitu pepatah bilang? Segera aku menemukan warung nasi yang menjual gudeg khas Jogja. Dengan penuh semangat satu porsi kupesan dengan beberapa varian lauk. Bayangan tetaplah bayangan, sekali lagi aku belajar dari sebuah bayangan, bahwa semua hal yang jatuh kedalam bayangan tidak akan sama seperti nyatanya bayangan itu berbicara. Apakah sang bayangan akan pergi setelah manusia merasa sudah tak lagi harus menitipkan dirinya kepada manusia yang disayanginya? Kurasa tidak.
Ya, gudeg itu tidak habis kumakan. Betapa marahnya perempuan paruh baya itu padaku, mengingatkanku akan perjuangannya menumbuk bumbu dan mengolah sayur, semua itu tergambar jelas dalam keluhan dan kerut garis wajahnya. Namun tidak suka tetaplah tidak suka. Bingung memang, memaksakan suatu hal berujung malapetaka, bukan begitu pepatah bilang? Tidak menghargai sama banding dengan mencaci maki, bukan begitu pepatah bilang? Dalam situasi ini hanya rasa sabar dan kata maaf yang patut dijunjung tinggi.
kata “maaf” menang, lawan marah, luka, lupa, benci, iri, dan semua pengganggu hati
Marcella FP – nktchi
Aku dan dia kini sampai didaerah yang dituju, Prambanan. Namun masih harus berjalan sekitar 1 km ke arah barat. Meskipun banyak jasa becak pengantar turis untuk sampai gerbang masuk Prambanan, dia bersikukuh mengajak aku untuk tetap berjalan. Sekali lagi ku ingatkan dia memang beda, mungkin dengan berjalan dia merasa menjadi manusia yang bisa menitipkan dirinya kepada orang yang ia sayang. Padahal tawaran jasa becak pengantar cukup murah, namun ya itulah rasa sayang, tidak ada bandingannya.
Buah naga, buah pelepas dahaga. Kini sang surya tidak mau kalah dengan awan, panas tetaplah panas. Namun dahaga mulai reda, dengan tiba-tiba dia mengasongkan sekotak buah naga segar. aku inget kamu kemarin bilang suka buah naga waktu makan salad di Malioboro ucapnya. Sungguh manis, buahnya mewakili dirinya. Dia mulai menariku menyelurusi semua sisi dan sudut penyemayaman trimurti. Entah kenapa secara acak aku dan dia berjalan menuju penyemayaman dewa wisnu, dewa pemelihara, dan berdiam cukup lama dibanding pada penyemayaman kedua dewa lainnya. Mengapa bisa diam begitu lama dibawah bayang bayang prasasti dewa wisnu? Mengucapkan kata-kata hati dengan ketidak hati-hatiannya? Kalau begitu sekarang aku panjatkan harap semoga dewa wisnu dapat memelihara hubungan ‘kita’.