Featured

PONDASI MEMBANGUN EKOSISTEM KELUARGA YANG BERKUALITAS DARI KACA MATA SEORANG ANAK

Ketika Rudolf Kerkhoven mencapai puncak kejayaanya, nasib naas keluarganyapun tidak dapat di pungkiri. Asset yang begitu berlimpah atas keberhasilan membangun Gambung melalui perkebunan teh tidak menjadikan Istri tercintanya; anak gubernur Daendels beserta putra-putrinya hidup makmur dan sejahtera. Lebih pahitnya, kematian mereka bersusulan. Bukan atas perlakuan orang jahat, namun kerangkeng pola hidup keluarga yang timpang membuat semua itu terjadi. Lantas, bagaimana seharusnya? berkeluarga membangun ekosistem yang baik didalamnya?

Heren Van De Thee karangan Hella S. Haasse yang menceritakan hiruk pikuk kerkhoven dalam memperjuangkan keluarganya melalui perkebunan teh, seharusnya menjadi bukti otentik bahwa kemakmuran dan kesejahteraan sebuah keluarga tidak hanya di ukur oleh tingkat material yang diperoleh. Mungkin banyak sekali asumsi tentang perpecahan keluarga dijunjung tinggi karena faktor ekonomi yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Padahal sederhananya, ekspektasi hanya perlu di kelola.

Tentu sangat mudah apabila pengelolaan ekspektasi itu di landasi dengan peran keluarga dan ekosistem didalamnya. Berbicara tentang peranan dan ekosistem, dua hal tersebut saya pikir menjadi suatu kesatuan yang tidak harus bersifat kompetitif, namun supportif. Banyak sekali para orang tua tidak supportif dalam menciptakan ekosistem yang seimbang. Alhasil, seorang anak tercetak oleh alur kehidupannya sendiri sehingga menciptakan ekosistemnya sendiri.

Barangkali, saat ini saya masih menjadi seorang anak. Namun perspektif keluarga selalu menarik ketika diceritakan dari sudut pandang seorang anak. Jika diibaraktakan secara hirarkis, penilaian cenderung selalu kritis dari seorang bawahan ketimbang atasan. Mengapa demikian? Karena para bawahan inilah yang sedang mempersiapkan dirinya untuk menjadi seorang atasan, sangat tidak lazim apabila sang atasan memberikan penilaian yang begitu berlebihan karena pengendalian seseorang tidak bisa menembus haknya seseorang.

Dalam berkeluarga, seorang kepala keluarga tidak seharusnya mencetak anak-anaknya sesuai dengan dirinya. Seringkali terdengar istilah anak metal lahir dari kelompok keluarga yang agamis, dan itu merupakan sebuah kewajaran. Yang seringkali menjadi tidak wajar adalah ketika yang dominan (ayah) tidak bisa mengelola sang anak karena dia tidak mengerti peranan ayah yang didambakan oleh seorang anak tersebut.

Ketika sudah terjadi demikian, maka apalah makna dari sebuah keluarga? apabila menurut seorang anak keluarga adalah sebuah tempat untuk berekspresi; tidak adanya rasa kecanggungan dalam bersikap. Jika saja sebuah bentuk ekspresi itu dicampakan oleh keluarga, dan ia menemukannya dalam sebuah ruang dan kelompok yang lain, maka anak itu akan menganggap bahwa keluarga yang menjadi prioritasnya adalah kelompoknya.

Disaat sudah terjadi demikian, yang dominan pasti akan selalu merasa dilema, penuh kebimbangan, yang berhujung pada kepasrahan, tidak terkontrolnya semua ekspektasi baik

secara moral maupun amoral. Ini yang melandasi pemahaman saya tentang terciptanya sebuah bentuk keluarga dengan ekosistem yang liberal. Kebebasan yang tidak terkontrol akan menciptakan dualisme sehingga memecahkan ekosistem, yang apabila di tarik mundur jauh sebelum pernikahan terjadi, banyak harapan-harapan baik akan keluarganya kelak.

Berbagai macam pasangan pasti mendambakan harapan penuh dari makna sakinah ma wadah wa rochmah dalam pernikahan. Jika dikaji dalam sudut pandang spiritual, seperti yang ditulis Darosy Endah Hyoscyamina dalam jurnalnya Peran Keluarga Dalam Membangun Karakter Anak, keluarga yang bahagia dapat kita ibaratkan surga dunia, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW bahwa “Rumahku adalah Surgaku”. Menjadikan rumah sebagai surga yang mana ketika di surga mahluk-mahluk Nya bebas mengeluarkan ekspresi apapun tanpa batas, seharusnya di rumahpun demikian. Namun dalam kenyataanya, tidak semua keluarga mencapai keluarga yang bahagia, banyak diantara keluarga mengalami masalah dalam berkeluarga seperti masalah hubungan suami istri, pendidikan anak, ekonomi keluarga, hubungan kemasyarakatan dan lain sebagainya. Variable masalah demikian yang bakal membungkam kebebasan berkespresi dalam ekosistem keluarga.

Tentu sangat sulit apabila merangkum semua variable masalah yang sering terjadi dalam sebuah keluarga, akan muncul berbagai macam suara dari masing-masing pihak yang ada dalam ekosistem keluarga tersebut. Namun dari banyak variable masalah itu, jika di lihat dari sudut pandang seorang anak, yang akan menjadi urgensi utama adalah cara komunikasi dan pola pendidikan anak, baik secara karakter maupun intelektualitas. Karena sesungguhnya hanya itulah peran terpenting keluarga dalam membangun ekosistem keluarganya yang baik. Cara komunikasi dan pola pendidikan anak akan menjadi pondasi ketika kelak anaknya yang akan kembali membina orang tuanya dimasa tua.

Berikut tiga jenis pondasi yang perlu diperhatikan dalam membangun pondasi anak yang juga dijelaskan dalam jurnal Peran Keluarga Dalam Membangun Karakter Anak yang ditulis oleh Darosy Endah Hyoscyamina.

1. Merangsang Minus Skolastik

Minus skolastik adalah minat belajar pada anak pra sekolah. Metode yang baik yang dianjurkan pada anak pra sekolah adalah menyesuaikan dengan kebutuhan anak dan gaya anak (Seto: 1997). Point pertama menyatakan secara rasional bahwa orang tua tidak harus selalu menggeluti ambisinya dalam mencetak anak. Hanya perlu menjadi pembibing penyesuaian kebutuhan anak agar sesuai dengan norma-norma hukum yang berlaku.

2. Melatih anak Bertata Krama

Orang-orang yang menguasai tata karma selalu lebih berhasil mendapat banyak teman, mendapat suami atau istri, mendapat pekerjaan dan berhasil berwiraswasta, karena mereka mampu menciptakan hidup ini menyenangkan bagi setiap orang yang berada disektiarnya. Point kedua menyatakan secara moral bahwa tidak semena-mena orangtua seenaknya menilai buruk atau baik. Menurut James Dobson seorang ahli jiwa mengatakan bahwa kunci

untuk membesarkan anak yang sehat dan bertanggung jawab adalah dengan berusaha untuk merasa di balik mata si anak, artinya orang tua melihat apa yang dilihat anak, memikirkan apa yang dipikirkan, dan merasakan apa yang dirasakan. Dengan berempati orang tua akan lebih dapat memahami keingan dan kebutuhan anak.

3. Membangun kecerdasan Emosi dan Spiritual

Dari berbagai hasil penelitian telah banyak terbukti bahwa kecerdasan emosi memiliki peranan yang jauh lebih penting dibandingkan dengan kecerdasan intelektual (Saphiro: 1999). Kecerdasan emosi menggambarkan bagaimana mengembangkan kecerdasan hati, seperti keuletan, kesabaran, inisiatif, optimisme, kemampuan beradaptasi dengan yang lain, kemampuan mendengarkan dan berkomunikasi lisan, serta kerja sama dalam tim. Sedangkan kecerdasan spiritual sejatinya terletak pada suara hati yang bersumber dari spiritual center, yang tidak dapat ditipu oleh siapapun, dan oleh apapun termasuk dirinya sendiri. Mata hati ini dapat mengungkapkan kebenaran hakiki yang tidak nampak dihadapan mata. Bahkan filsuf Islam Jalaludin Rumi mengemukakan bahwa “mata hati punya kemampuan 70 kali lebih besar untuk melihat kebenaran daripada dua indera penglihatan”. Point ketiga menyatakan secara nalar dan logis bahwa orang tua tidak harus selalu menuntut anaknya untuk hanya sekedar pintar belaka. Kecerdasan intelektual tidak akan berguna ketika kecerdasan emosionalnya tidak dibangun dengan baik, sudah banyak sekali contoh orang-orang pintar yang sekarang menduduki jajaran ketatanegaraan yang tidak mempunyai kecerdasan emosinal dan spiritual sehingga dipenghujung masa jabatannya selalu menjadi korban dan langganan bui.

Bagaimanapun kondisi dan keadaan sebuah keluarga pasti tidak akan terlepas dari variable masalah – masalah sesuai dengan tingkatannya. Jika saja Kerkhoven tidak menjadikan ambisinya sebagai landasan untuk membahagiakan keluarganya, mungkin saja istri tercintanya juga putra-putrinya tidak bernasib naas. Ekosistem keluarga hanya akan tumbuh dan berkualitas baik dengan cinta. Kekuatan cinta dapat menjadikan junjungan untuk sama- sama melihat masa depan yang lebih baik bagi keluarganya. Mencintai diri sendiri tentunya, mencitai suami atau istri, mencintai anak, dan juga saudara yang termasuk kedalam basis kedua ekosistem keluarga. Ketika sudah merasa saling mencintai satu sama lain, maka akan terwujud konsep Rumahku adalah Surgaku, yang mana menjadi tanda bahwa peran dan makna sebuah keluarga itu mencapai titik kebahagiaan dalam ekosistem keluarganya. Sebagai bagian dari orang yang hidup dalam ekosistem keluarga, semua aspek yang telah terurai diatas merupakan sebuah tamparan tersendiri ketika saya berkeluarga kelak. Sesungguhnya tulisan ini adalah pesan bagi saya sendiri selaku anak yang akan berganti menjadi orang tua untuk menciptakan ekosistem keluarga yang baik dan berkualitas.

Bandung, 10 Juli 2020

Perkenalan yang Asing

Sempat beberapa kali terdiam dan merenung atas nasib yang tidak sama sekali menunjukan mimpi. Lagi-lagi perjalanan kerap kali menjadi pelarian untuk sekedar mengobati kegundahan hati. Bersyukurnya perjalanan tampak arah. Aku diminta untuk menjadi penelusur jejak manusia yang katanya cukup ekstrim. Meskipun sebenarnya takut, namun rasa takut akan kegundahan hati lebih ber api-api. 

Kereta mengantarkan kami kesebuah tempat yang belum pernah terjajaki. Dua teman wanitaku dengan luwes mempersilahkan masuk layaknya sudah seperti rumah sendiri. Aku membungkuk sembari mengucapkan salam dan disambut oleh dua orang laki-laki . Satu terlihat lebih muda dariku, dan satunya lebih tua. Mereka tersenyum namun layaknya tidak seperti laki-laki. Raut muka mereka seakan menafsirkan ke-ekstriman yang dikatakan teman perempuanku sebelum beranjak. Untungnya segelas teh hangat cukup dapat mengendalikan aliran keringat dingin yang sudah membanjiri punggungku.

Obrolan berlangsung begitu lama, tidak terasa hari sudah mulai malam. Setelah santap makan malam, narasi-narasi keintiman pun dimulai. Tentu kapasitasku untuk menjadi sang penelusur sudah merenggut jiwa-jiwa mereka. Laki-laki yang lebih tua berkata banyak sekali hal-hal yang cukup filosofis akan keputusannya menjadi seorang penari. Sekarang aku tahu, bahwa ke ekstriman itu terpancar karena mereka sedikit nakal akan hakikatnya. Laki-laki yang berparas cantik. 

Pertunjukan tari dimulai dengan cukup apik. Aku menganga melihat gemulai para penari yang sangat lihai dalam berlatih gerakan-gerakannya. Aku cukup memperhatikan semua orang yang terlibat pada pertunjukan. Sayangnya setelah hampir satu jam, aku pun terlarut oleh pertunjukan itu. Tidak kusangka, rumah jawa tua yang mempunyai empat pilar di ruangan utama seakan menjadi poros putaran ilusi pertunjukan berlangsung. 

Hawa dingin sudah mulai menusuk. Pertunjukan pun akhirnya selesai. Dengan cepat laki-laki yang lebih tua itu menutup pintu yang terbuka lebar. Serasa ada yang aneh dengan gerak-gariknya. Dua teman wanitaku sudah tidak kuat untuk melanjutkan penelusuran. Mereka meminta izin untuk istirahat dengan alasan kantuk yang berat. Aku tahu, mereka perlu waktu untuk sekedar menghubungi teman hatinya yang tidak ikut bersama kami. Selepas teman wanitaku beranjak, aku merasa sendirian dalam kerumunan. Syarafku seakan mengirimkan sinyal intimidatif ke seluruh tubuh. Aku berharap handphone ku berdering seperti malam-malam biasanya. Namun rasa pesimis lebih besar karena aku sedang di ambang perpisahan. 

Mereka memulai dengan lelucon yang mempermainkanku. Meskipun dalam tawa, mata ini tetap waspada melihat ke kiri dan ke kanan. Aku mulai basa basi menanyakan warung yang masih buka untuk membeli rokok yang sebetulnya masih ada. Beruntung mereka akhirnya teringat bahwa malam sudah hampir larut. Satu per satu bagian diatara mereka berpamitan untuk pulang. Hingga tinggal aku dan dua laki-laki itu yang duduk di meja bundar. Laki-laki lebih tua menyuruh adiknya untuk membuatkan kopi dan teh hangat. Aku kira itu anaknya selama ini.

Hanya tinggal aku dan laki-laki lebih tua itu kini berhadapan. Satu batang rokok coba ku nyalakan untuk mengimbangi laki-laki itu. Dengan lembut ia menegurku agar jangan terlalu waspada. Aku mulai melirik dia dalam-dalam. Dirumah ini tidak ada yang berani mengusikmu, ungkapnya. Semakin terheran, aku mencoba menyelaraskan dengan harap bisa memahami apa yang dia maksud. Mungkin aku tidak asing ya? tanyaku. Mereka tau kamu akan datang, dan akupun tau. Ungkapnya sambil menghembuskan asap roko. 

Kopi dan teh pun sudah datang. Laki-laki tua itu menyuruh adiknya untuk tidur agar besok tidak telat menuju sekolah. Kamu tidak mau tidur? tanya nya. Aku terbiasa tidur larut malam, jawabku. Bahkan kita mempunyai kesamaan yang sama, ungkapnya. Jangan menganggap dirimu asing lagi di tempat ini, ada banyak sekali yang harus aku ceritakan, dan tentunya bukan untuk orang asing. Dia mematikan rokok lalu menyuruhku untuk tidur.

Coklat dan Kopi

Ketika mengunjungi salah satu kedai kopi, tidak sengaja melihat kata-kata yang tertulis lengkap dengan mural lukisan wajah sang penyairnya, begini katanya “kopi itu sangat sederhana, yang tidak sederhana hanya tafsirannya”  

Tentu kutipan diatas merupakan adaptasi dari pemikiran pram yang disebutnya di dalam salah satu buku tetraloginya, begini aslinya “hidup itu sungguh sederhana, yang hebat sungguh hebat hanya tafsirannya”. Sederhana dan tafsirannya berhasil tidak bisa membuatku tidur malam ini dan memaksaku sekarang untuk menuliskan kisah dimana itu sesederhana memanaskan coklat untuk menghangatkan badan, dan sesulit menyangrai kopi untuk tafsiran berbagai macam rasa.

Rabu malam tanggal 11 september 2019, sengaja aku tuliskan waktu kejadian dengan harap akan kekal dalam ingatan kita. Perjalanan ke arah utara Yogyakarta dengan suasana sedikit sejuk dan tentu dingin lagi-lagi membuatku tidak merasakan itu semua. Lagi-lagi dia memberikan sinergi yang cukup besar sehingga tanganku menolak untuk melepaskan genggamannya. Kira-kira kemana kita akan sampai? Tidak akan menarik jika aku menjelaskan tempat itu secara terang-terangan, bukan berarti ingin menimbulkan rasa penasaran, aku tahu betul rasanya ditangguhkan dengan praduga dan asumsi asumsi liar namun nyatanya tidak seliar yang dibayangkan, sekali lagi aku ingatkan bahwa bayangan memang begitu kerjanya, pesanku selalu ingat saja sifatnya.

Coklat sang makanan para dewa. Begitu orang-orang Venezuela menafsirkan keorganikan coklat atas manfaatnya. Katanya, minuman coklat hangat terenak Jogja ada disini. Disebuah kedai kopi yang nyentrik, sudah itu saja pernyataanku atas kesampaian aku dan dia. Tidak membuat penasaran kan?  Baik, satu gelas coklat panas sudah kusodorkan kepada dia yang menunggu sambil membuka buku catatannya. Coklatnya tuan putri ucapku sambil membungkukan badan. Aku tidak suka aroma kopi ucapnya dengan mimik mukanya yang begitu. Tidak bisa kutuliskan, itu hanya ada dalam bayangan. Bayangkan saja jika mampu. Satu pelajaran yang menjadikanku respect terhadapnya adalah kerelaanya berbagi waktu belajarnya dengan waktu bermesranya. ini tentu tidak sepenuhnya kehendak semesta, namun ada niat mulia yang mendampingi terciptanya sebuah fenomena romantisme yang beda. tidak dengan bosannya aku ingatkan bahwa dia benar-benar beda.

Apakah kalian percaya tentang sebuah kefitrahan? Fitrah yang berarti datang dari tuhan alias sesuatu yang suci? Aku percaya, buktinya saja manusia. Jeritan jeritan manusia yang memecahkan ketubannya adalah contoh nyata atas adanya fitrah. Ketika aku belajar dulu, guruku sempat menerangkan bahwa segala sesuatu yang suci itu sangat sederhana. Analoginya, seperti bayi manusia yang tumbuh besar dalam kaki tangan hewan hutan. Yang penting disini apakah kefitrahan bisa menjadi tidak sederhana lagi ketika ada kesalahan pada siapapun yang nantinya memaksa tuhan untuk menguji mahluk ciptaannya?

supaya sembuh, kau harus gali akar lukamu, dan mengecupnya sampai puncak

Rupikaur – the sun and her flowers

Mencium aromanya saja sudah tidak suka, apalagi menafsirkannya. Sengaja kupesan kopi agar sedikit lebih segar dan tetap konsentrasi menemani dia dengan sinerginya. Menurutku ini sebuah perjuangan bukan sebuah penghinaan, karena akar rumputnya adalah kasih sayang. Kutemani dia belajar dan sesekali mengganggunya, agar dia tidak merasa terbebani sendiri. Hal yang sangat lucu adalah kita sama sama baru tahu bahwa iphone bisa dijaikan penggaris untuk membuat garis samping, serendah itu bagi kita. Saat itu yang paling kuingat adalah bahasan tentang teman sekamarmu, sekarang aku bercerita kepadamu wahai sang pembaca. Kau ingat ketika aku begitu mendengarkan dengan sabar keluhan keluhan tentangmu, dan semua yang bersangkutan denganmu, pastinya malam itu tentang teman sekamarmu. Disana kita berdialog untuk mencapai sebuah kesejahteraan. Meskipun nyatanya sampai sekarangpun belum juga sejahtera. Tetapi bukan itu yang kutekankan, kali ini aku akan menafsirkan semua maksud dan analogi yang kusampaikan kepada temanmu, semoga saja masih berkenan untuk mengingat kalimat demi kalimatnya.

Begini, tidak ada perbedaan yang menjadikan setiap manusia menghendaki takdirnya. Semuanya berupaya untuk mejadi yang terbaik sekaligus dimata tuhannya. Setelah perjalanan panjang begitu banyak, aku sadari bahwa hidup hanya tinggal mati. Karena setiap apapun yang dilakukan manusia menghendaki kekekalan didalamnya. Dan kau tau apa yang akan kekal dari manusia? Yaitu kematian. Boleh aku membuat sebuah perumpamaan sederhana? Kopi yang dicampur berbagai macam penyedap rasapun yang kekal hanya paitnya. Kiranya malu sebagai manusia apabila ia mati masih menyimpan secerca harapan kebahagiaan. Aku belajar kalau semua ini hanya sementara. Waktu. Perasaan. Orang-orang. Aku belajar kalau mencintai berarti memberi. Seutuhnya. Dan merelakan diri terluka. Aku belajar kalau menjadi rentan itu selalu merupakan pilihan tepat, karena di dunia sekarang ini menjadi dingin itu mudah sementara menjadi lembut itu luar biasa sulitnya. Aku belajar kalau semua ada pasangannya. Hidup dan mati. Suka dan duka. Gula dan garam. Manis dan pahit. Begitu juga aku dan kau. Itulah keseimbangan semesta.

inilah rahasia hidup, ingatlah mawar yang kau tanam di taman sepanjang tahun, mereka akan mengajarimu, betapa manusia harus layu, gugur, tumbuh, kuncup, agar mekar kembali

Rupikaur – the sun and her flowers

Aku kira kita berpasangan, karena aku tidak suka coklat dan kau tidak suka kopi. Kau suka manis dan aku suka pahit. Pernahkah terlintas dalam fikiranmu kalau kita tidak berpasangan? Jika iya, kukira itu tepat sekali. Karena yang kumaksud berpasangan disini adalah kau dan segala sesuatu yang membuatmu mendapatkan semua rasa manismu, dan aku dengan segala sesuatu yang membuaku terus menafsirkan rasa pahitku. Tentunya dengan tidak sederhana.

Sayangnya Bayang Bayang

Iri sekali dengan bayangan. Setiap kali aku berkeringat ia tidak sesekali mengucurkan keringat, padahal sama-sama melangkah menuju tempat jemputan yang ditutup rapat dengan tralis besi… 

Hey! itulah asrama, tempat dimana para manusia menitipkan manusia kepada manusia. Bukannya manusia hanya patut menitipkan dirinya kepada tuhan? Dan tuntutan sosial tentang manusia-pun ahirnya digantungkan kepada tuhan? Kesal! bayangan tidak menjawab apa-apa. Masih dengan posisi kepala menunduk, kulihat bayangan dia mulai mendekat seakan hendak memberikan jawaban. Diajaknya aku menuju halte bis, itu tidak jauh dari asrama ucapnya. Aku dan dia berjalan dibawah teriknya sang surya. Sekarang kulihat bayangan menjadi dua, sesaat mendapat jawaban bahwa manusia hanya menitipkan dirinya kepada manusia yang benar-benar disayanginya, tetapi orang yang sayang kepadanya belum bisa dipercayainya. Rumit, tapi itulah manusia dengan segala kemanusiaannya. 

ada yang baru sadar setelah memiliki semua, ada yang baru sadar setelah kehilangan semua

Marcella FP – nktchi

Tangan ini sudah mulai hangat. bukan karena sang surya sedang merekah dengan agungnya, namun sinergi jari-jemarinya yang terus mengalirkan kehangatan tiada henti. Ditengah perjalanan, rasa bersalahku muncul.  Berharap dapat sarapan salah satu makanan khas daerah Jogja, ternyata hostel tempat menginap semalam malah menghidangkan masakan rumahan. Itu bukan hal yang biasa, namun alangkah istimewa jika dapat sedikit mencicipi hidangan khas daerahnya. Malu bertanya sesat dijalan, bukan begitu pepatah bilang? Segera aku menemukan warung nasi yang menjual gudeg khas Jogja. Dengan penuh semangat satu porsi kupesan dengan beberapa varian lauk. Bayangan tetaplah bayangan, sekali lagi aku belajar dari sebuah bayangan, bahwa semua hal yang jatuh kedalam bayangan tidak akan sama seperti nyatanya bayangan itu berbicara. Apakah sang bayangan akan pergi setelah manusia merasa sudah tak lagi harus menitipkan dirinya kepada manusia yang disayanginya? Kurasa tidak. 

Ya, gudeg itu tidak habis kumakan. Betapa marahnya perempuan paruh baya itu padaku, mengingatkanku akan perjuangannya menumbuk bumbu dan mengolah sayur, semua itu tergambar jelas dalam keluhan dan kerut garis wajahnya.  Namun tidak suka tetaplah tidak suka. Bingung memang, memaksakan suatu hal berujung malapetaka, bukan begitu pepatah bilang? Tidak menghargai sama banding dengan mencaci maki, bukan begitu pepatah bilang? Dalam situasi ini hanya rasa sabar dan kata maaf yang patut dijunjung tinggi. 

kata “maaf” menang, lawan marah, luka, lupa, benci, iri, dan semua pengganggu hati

Marcella FP – nktchi

Aku dan dia kini sampai didaerah yang dituju, Prambanan. Namun masih harus berjalan sekitar 1 km ke arah barat. Meskipun banyak jasa becak pengantar turis untuk sampai gerbang masuk Prambanan, dia bersikukuh mengajak aku untuk tetap berjalan. Sekali lagi ku ingatkan dia memang beda, mungkin dengan berjalan dia merasa menjadi manusia yang bisa menitipkan dirinya kepada orang yang ia sayang. Padahal tawaran jasa becak pengantar cukup murah, namun ya itulah rasa sayang, tidak ada bandingannya. 

Buah naga, buah pelepas dahaga. Kini sang surya tidak mau kalah dengan awan, panas tetaplah panas. Namun dahaga mulai reda, dengan tiba-tiba dia mengasongkan sekotak buah naga segar. aku inget kamu kemarin bilang suka buah naga waktu makan salad di Malioboro ucapnya. Sungguh manis, buahnya mewakili dirinya. Dia mulai menariku menyelurusi semua sisi dan sudut penyemayaman trimurti. Entah kenapa secara acak aku dan dia berjalan menuju penyemayaman dewa wisnu, dewa pemelihara, dan berdiam cukup lama dibanding pada penyemayaman kedua dewa lainnya. Mengapa bisa diam begitu lama dibawah bayang bayang prasasti dewa wisnu? Mengucapkan kata-kata hati dengan ketidak hati-hatiannya? Kalau begitu sekarang aku panjatkan harap semoga dewa wisnu dapat memelihara hubungan ‘kita’.   

Pertemuan yang Asing

yang gondrong itu Bobi Rendra, tentunya laki laki sejati

Meninggalkan pekerjaan memang hal yang salah, bekerja dalam penuh kepenatan juga hal yang salah, ah sudahlah ini bukan zaman penjajahan!

Kuputuskan untuk menghela nafas sejenak dan menunggu jadwal kereta tiba bersama dinginnya malam dipelataran masjid kampus yang sudah lama tidak aku kunjungi, memang masjid adalah rumah. Sejujurnya ini adalah perjalanan pertama lintas kota dengan menggunakan kereta api, ekonomi pula. Dengan iming-iming agar dapat mengobrol dan bertukar cerita, nyatanya bangku 3 sheet berhadap hadapan hanya dipenuhi dengan perdebatan siapa yang pertama mencarter tempat charger handphone saja. Mungkin sapa menyapa diudara kini lebih terkesan romantis ketimbang langsung dengan orang kasat mata, sampai ahirnya tiba di statsiun terahir semua orang mulai sibuk dengan kata permisi kepada orang yang menghalangi gerak langkahnya. 

Terlambat dan menunggu adalah satu peristiwa yang tidak bisa dibantah bagi sebagian orang yang mempunyai tekad untuk bertemu. Setelah penantian panjang, manusia macam apa yang tidak berani untuk menunggu meskipun perlu mengorbankan banyak waktu. Dipojok pintu keluar timur statsiun, kini kulihat dia dengan nyata. Mencari-cari yang dicarinya, dan aku tetap berdiri dibelakangnya. Sampai hati ini berani berjalan menghampirinya, sesambil otak ini berfikir kalimat pertama untuk menyapanya. Semua terkesan seperti mimpi, aku dan dia sangat terlihat memikirkan hal yang sama, bagaimana cara memulai untuk memulai. 

Malioboro pukul tiga sore, salad buah dan keramaian pengunjung sepanjang jalan garis lintang Yogyakarta ini sangat indah dengan senjanya. Mulai berjalan menyusuri lautan manusia hanya untuk mencari 5 tusuk telur gulung yang menjadi incaran sang kekasih, dia memang beda. Menemaninya berjalan lurus ke pusat poros perputaran Yogyakarta, kupikir pertemuan pertama memang harus berkenalan, memperhatikan setiap detil sikap dan ucapan masing masing dari kita, sampai langkah ini terhenti disebuah warung mercon lesehan. Disela sela perjalanan ku sempatkan bertanya tentang keletihan, namun ia bantah dengan semangat, tidak baik menunda nunda penasaran ucapnya, meski nyatanya warung mercon yang kucari tidak juga terlihat nampak. Sampai saat ini aku masih bingung apa yang menyebabkan sandang pangan di Jogja bisa begitu sangat murah, namun nyatanya ketika menanyakan semua makanan pesanan harganya cukup mengagetkan. Ya begini sudah turis di negara sendiri, merasa asing dengan semua alkisahnya.

I do not need the kind of love that is draining, I want someone who energizes me...

Rupikaur – the sun and her flowers

Bobi Rendra, orang yang dulu sempat kubenci hanya karena permainan pendewasaan diri, kini menjadi sahabat sekaligus orang yang pertama kali aku kenalkan dengan dia. Semua ini asing, tidak pernah seantusias ini aku mengenalkan orang yang juga baru bertemu beberapa jam yang lalu. Seharusnya ini menjadi sebuah penghormatan, karena aku tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Sambil menunggu datang karena hendak mengantarkan orang tuanya menuju statsiun, aku mulai berani untuk menanyakan hal hal yang sebenarnya retoris, ya bagaimanapun ini termasuk usaha bagi tipikal orang yang cukup introvert. Sampai sini kita bertiga hanya mengobrol dan berdiskusi seputar pengalamanku, pencapaianku, dan kegundahanku. Sampai sini pula kita bertiga berpisah menuju titik masing masing. Sampai sini pula tidak kusadari betapa dinginnya malam dan tangan ini.

Perwis kereta dan Lingkaran tawa penumpang cilik

Keharmonisan anak-anak dalam perjalanan kereta cibatuan di persimpangan gerbong kereta yang padat

Kereta cibatuan membawaku melaju mengantarkan adik ke-2 ku yang hendak mengikuti rangkaian Masa Orientasi Siswa (MOS) pada tanggal 10 juli kemarin. Tak lama sampai dirumah, aku kembali pamit karena kereta cibatuan kembali menuju Bandung hanya berselang satu jam dari pemutaran balik statsiun Purwakarta menuju statsiun Plered. Melihat penumpang yang naik dari statsiun Plered mayoritas ibu beserta anak-anaknya yang cukup banyak serta gerbong-gerbong yang terlihat penuh dibatas penungguan kereta yang hendak berhenti, akupun berpikir untuk berdiri dipersimpangan gerbong saja sambil mendengarkan beberapa album Nosstres.

Setelah melalui beberapa statsiun pemberhentian kereta, aku baru ngeh ketika melihat lingkaran kecil yang dibuat oleh segerombolan anak cilik serta satu orang ibu-ibu yang juga berada di persimpangan gerbong. Kasihan melihat mereka duduk dilantai persimpangan gerbong, akhirnya aku mencoba untuk menengok mencari-cari apakah ada tempat duduk kosong setelah beberapa kali pemberhentian ada orang yang sering turun ketimbang naik. Namun ketika melihat tempat duduk diantara kedua gerbong penuh dan padat, kurasa duduk dilantai persimpangan gerbong kereta juga tak masalah, meskipun secara keamanan memang sungguh-sungguh tidak aman sama sekali.

kereta menunggu perwis yang terjadi pada lintas jalur lokal, seorang petugas celaning service bersantai dan seorang pemuda menengok ke arah masinis statsiun cikadongdong

suasana yang pengap memang menjadi hal yang menyebalkan saat itu, beruntungnya kereta juga sampai di statsiun pemberhentian berikutnya. Akupun mencoba membuka pintu persimpangan gerbong untuk mendapatkan udara yang lebih segar. Melihat cleaning service turun keluar dan bersantai serta masinis statsiun yang memberikan aba aba bahwa akan ada perwis, keretapun berhenti cukup lama. Terdengar cukup keras suara anak cilik yang melingkar duduk dipersimpangan gerbong bercanda dan tertawa, membuatku sontak melihat dan sejenak berpikir bahwa suasana harmonis tercipta ketika semuanya saling berhadapan, bagaimanapun kondisinya sesama manusia harus saling mencurahkan apa yang ia rasakan didepan manusia lainnya.

Peristiwa itu mengingatkanku kepada salah satu budaya Batak. Yang mana, jika ia tidak suka dengan apapun yang berkaitan dengannya, maka ia akan secara lantang berbicara bahwa ia tidak suka terhadap orang yang membuatnya tidak menyukainya. Sepertinya budaya semacam itu yang membuat suku Batak baik di perantauan ataupun di daerahnya sendiri terlihat bak ikatan rotan yang kuat. Bukan perihal rasa rindu ataupun karena marga ketika orang Batak berjumpa bak sodara, namun memang cara mempelakukan antar sesama manusianya pun bisa dibilang lugas. Hal ini pernah aku rasakan ketika sedang menjalankan sebuah project kolaborasi film bersama temanku, dan ketika aku membuat kesalahan yang kurasa itu wajar, temanku berusaha mencurahkan kekesalannya terhadapku. Namun setelah itu kami tidak bertengkar sama sekali, bahkan menjadi sebuah pembelajaran baru. Akibat peristiwa itu, aku mendapatkan sebuah artian nyata bahwa manusia itu tidak sama seperti apa yang dibayangkan dalam benak kita, dan ketika kita mengenali satu sama lain, itu yang akan membuat kita faham akan bentuk perlakuan seperti apa terhadapnya.

saya merujuk pada salah satu pemahaman dalam kepercayaan saya, bahwa manusia diciptakan berbeda-beda layaknya untuk saling mengenal satu sama lain

Prinsip berhadapan antar sesama manusia, menjadi sebuah pembentuk awal terciptanya keharmonisan. Seperti canda tawa yang kulihat pada lingkaran kecil anak cilik di persimpangan gerbong. Yang mungkin, sebelum menaiki kereta mereka memperdebatkan urutan tempat duduk, siapa duluan yang berhak duduk diposisi dekat dengan jendela hanya sekedar untuk melihat pemandangan disepanjang perjalanan. Namun nyatanya mereka harus menghibur satu sama lain dalam kepadatan kereta dan suasana yang pengap pada waktu itu.

Kereta api ekonomi memang murah, ketika masuk kita harus mewajari akan kepadatan kereta yang kadang membuat tidak nyaman diperjalanan. Namun, karna itulah aku menemukan beberapa hal menarik yang dapat dijadikan sebuah potret pembelajaran apabila kita peka terhadap lingkungan sekitar. Jangan jauh-jauh, yang ada di samping kita aja dulu.

Design a site like this with WordPress.com
Get started